5 Dampak Buruk Menonton TV Terlalu Lama Terhadap Kesehatan

    5 Dampak Buruk Menonton TV Terlalu Lama Terhadap Kesehatan

    gmbr. 1

    Jakarta, Menonton televisi (TV) bisa jadi sumber hiburan dan informasi bagi seseorang yang ingin mengisi waktu luang. Namun demikian hati-hati agar jangan sampai terjebak menjadi kebiasaan berjam-jam menonton TV.

    Alasannya karena kebiasaan yang seperti itu bisa dibilang termasuk gaya hidup malas (sedentari) dan menurut para ahli bisa berdampak buruk pada kesehatan.

    Studi-studi khususnya telah melihat apa saja yang bisa diakibatkan oleh kebiasaan menonton TV terlalu lama. DetikHealth merangkum beberapa di antaranya seperti berikut:

    article 2

    1. Anak lambat belajar bicara

      Sebuah penelitian mengungkapkan sekitar 1 dari 4 anak laki-laki dan 1 dari 7 anak perempuan memiliki masalah dalam hal kemampuan berbicaranya. Dan diperkirakan sekitar 4 persen dari jumlah anak yang berusia 3 tahun belum bisa berbicara.

      Keterlambatan anak berbicara ini turut dipengaruhi oleh faktor keluarga yang sering mengajaknya menonton TV secara terus menerus. Kebisingan dari suara TV membuat anak kecil sulit memahami bahasa orang dewasa di sekitarnya.

    3

    1. Kepadatan tulang lebih rendah

      Bila dari kecil seseorang sudah terbiasa lama menonton TV, maka dirinya akan jarang bermain aktif dan hal ini akan berdampak hingga dewasa. Data 1.000 anak-anak di Australia menunjukkan ketika aktivitas menonton TV dilakukan lebih dari 14 jam dalam seminggu, ketika dewasa kepadatan tulang mereka lebih rapuh dibandingkan orang lain pada umumnya.

      “Duduk menonton televisi terlalu lama membawa dua hal, pertama membuat diri menjadi tak aktif jadinya kita tak merasakan manfaat dari aktivitas fisik. Dan kedua karena membuat kita diam selama beberapa waktu, studi melihat ada respon fisiologis merubah tatanan kimia badan yang membuat tulang bisa tetap kuat,” kata dr Sebastien Chastin dari Glasgow Caledonian University.

    4

    1. Penggumpalan darah di paru

      Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Circulation tersebut, seseorang yang menonton TV lebih dari 5 jam sehari punya risiko 2,5 kali lebih tinggi untuk mengalami kematian akibat penggumpalan darah di paru. Di kalangan dokter, kondisi ini disebut pulmonary embolism.

      Pulmonary embolism atau embolisme paru bisa sangat mematikan karena menyumbat aliran darah. Jika pembuluh darah yang tersumbat pembuluh yang menuju jantung, maka dampaknya adalah kegagalan fungsi jantung.

      Faktor pendorong terjadinya penggumpalan ini diduga karena duduk terlalu lama. Oleh karena itu dr Hiroyasu Iso selaku pemimpin studi menganjurkan seseorang agar rutin melakukan peregangan setiap satu jam menonton TV.

    5

    1. Pengaruhi psikis anak

      Para peneliti di American Academy of Pediatrics mengatakan bahwa adegan kekerasan yang ada di dalam video game, acara televisi, maupun film, memiliki kaitan erat dengan perilaku dan pikiran agresif, serta emosi pada anak-anak.

      “Adegan kekerasan meskipun hanya buatan dan bukan sungguh-sungguh terjadi, sebenarnya cukup traumatis bagi anak-anak tanpa memandang usia. Tanpa disadari hal ini bisa berdampak langsung, misalnya pada peningkatan frekuensi mimpi buruk, gangguan tidur serta kecemasan pada anak,” ujar Dr Dimitri Christakis, dari Seattle Children’s Research Institute.

    6

    1. Penurunan fungsi otak

      Peneliti dari Northern California Institute for Research and Education di Veterans Affairs Medical Center, San Fransisco, dalam studinya menemukan bahwa orang dewasa muda yang menonton TV terlalu lama dan tidak berolahraga kemungkina besar akan merasakan efek dari kebiasaan buruk pada otak mereka saat bertambah tua.

      Sebanyak 3.200 orang berusia rata-rata 25 tahun yang diteliti menunjukkan fungsi kognitif otaknya mengalami skor buruk paling buruk ketika menonton TV lebih dari tiga jam per hari. Hal ini diketahui setelah peneliti melakukan tiga tes yang mengukur proses informasi, memori verbal, dan fungsi eksekutif otak responden

    It\'s only fair to share...Share on Facebook
    Facebook
    Tweet about this on Twitter
    Twitter
    Share on LinkedIn
    Linkedin

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *